Paradigma
pembelajaran abad 21 menekankan kepada kemampuan siswa untuk berpikir kritis,
mampu menghubungkan ilmu dengan dunia nyata, menguasai teknologi informasi
komunikasi, dan berkolaborasi. Pencapaian ketrampilan tersebut dapat dicapai
dengan penerapan metode pembelajaran yang sesuai dari sisi penguasaan materi
dan ketrampilan. Kemampuan berpikir kritis siswa dibangun melalui pembelajaran
yang menerapkan taksonomi pembelajaran sebagaimana disampaikan oleh Benyamin
Bloom tahun 1956 yang telah direvisi pada tahun 2001. Bloom membagi tujuan
pendidikan menjadi tiga ranah yaitu ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
Tujuan pendidikan mengalami penyempurnaan pada tahun 2001 (Anderson dan
Krathwohl, 2001). Taksonomi pembelajaran dikelompokan dalam dimensi pengetahuan
dan dimensi proses kognitif.
Dimensi
proses pengetahuan terdiri empat bagian yaitu faktual, konseptual, prosedural,
dan metakognitif. Krathwohl (2002), Anderson & Krathwohl (2001) menyebutkan
bahwa pengetahuan faktual menekankan pada pengetahuan faktual, yaitu
pengetahuan yang berupa potongan-potongan informasi yang terpisah-pisah atau
unsur dasar yang ada dalam suatu disiplin ilmu tertentu, yang mencakup
pengetahuan tentang terminologi dan pengetahuan tentang bagian detail.
Pengetahuan faktual menyajikan fakta-fakta yang muncul dalam pengetahuan.
Pengetahuan konseptual, yaitu pengetahuan yang menunjukkan saling keterkaitan
antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar dan semuanya berfungsi
sama-sama, yang mencakup skema, model pemikiran dan teori. Pengetahuan
prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu, baik yang
bersifat rutin maupun yang baru, dan Pengetahuan metakognitif, yaitu mencakup
pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri sendiri.
Dimensi
poses pengetahuan terbagi dalam tiga yaitu kognitif, afektif dan psikomotor
(Anderson & Krathwohl, 2001:67-68) ranah kognitif terbagi dalam enam
tingkat yaitu : 1) mengingat (remember) : mengambil, mengakui, dan mengingat
pengetahuan yang relevan dari memori jangka panjang; 2) memahami (understand):
membangun makna dari lisan, pesan tertulis, dan grafis melalui menafsirkan,
mencontohkan, mengklasifikasi, meringkas, menyimpulkan, membandingkan, dan
menjelaskan; 3) menerapkan (apply): melaksanakan atau menggunakan prosedur
melalui pelaksana, atau menerapkan; 4) menganalisis (analyze): breaking materi
menjadi bagian-bagian penyusunnya, menentukan bagaimana bagian-bagian
berhubungan satu sama lain dan yang secara keseluruhan struktur atau tujuan
melalui membedakan, mengorganisasikan, dan menghubungkan; 5) evaluasi
(evaluate): membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar melalui
memeriksa dan mengkritisi; dan 6) menciptakan (create): menempatkan elemen
bersama-sama untuk membentuk suatu kesatuan yang utuh atau fungsional,
reorganisasi elemen ke pola baru atau struktur melalui menghasilkan,
perencanaan, atau menghasilkan.
Cara/teknik
pembelajaran yang digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran abad 21 ini
meliputi:
1.
pembelajaran
yang berpusat pada peserta didik,
2.
multi
interaksi dalam proses pendidikan,
3.
lingkungan
belajar yang lebih luas,
4.
peserta
didik aktif menyelidiki dalam proses belajar,
5.
apa
yang dipelajari kontekstual dengan anak,
6.
pembelajaran
berbasis tim,
7.
objek
yang dipelajari relevan dengan kebutuhan anak,
8.
semua
indera anak didayagunakan dalam proses belajar,
9.
menggunakan
multimedia (khususnya ICT),
10.
hubungan
guru dengan siswa adalah kerjasama untuk belajar bersama,
11.
peserta
didik belajar sesuai dengan kebutuhan individual, sehingga layanan pembelajaran
lebih individual juga,
12.
kesadaran
jamak (bukan individual),
13.
multi
displin,
14.
otonomi
dan kepercayaan,
15.
mengembangkan
pemikiran kreatif dan kritis,
16.
guru
dan siswa sama-sama saling belajar.
Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah
merubah gaya hidup manusia, baik dalam bekerja, bersosialisasi, bermain maupun
belajar. Memasuki abad 21 kemajuan teknologi tersebut telah memasuki berbagai
sendi kehidupan, tidak terkecuali dibidang pendidikan. Pendidik dan
peserta didik dituntut memiliki kemampuan belajar mengajar di abad 21 ini.
Sejumlah tantangan dan peluang harus dihadapi siswa dan guru agar dapat
bertahan dalam abad pengetahuan di era informasi ini.Pendidikan Nasional abad
21 bertujuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa, yaitu masyarakat bangsa
Indonesia yang sejahtera dan bahagia, dengan kedudukan yang terhormat dan
setara dengan bangsa lain dalam dunia global, melalui pembentukan masyarakat
yang terdiri dari sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu pribadi yang
mandiri, berkemauan dan berkemampuan untuk mewujudkan cita-cita bangsanya.
Pergeseran
paradigma pendidikan abad 21 menurut laporan BSNP tahun 2010 dalam Wasitohadi
(BSNP, 2010: Kemdikbud, 2012) meliputi:
1. Dari berpusat pada guru menuju berpusat pada siswa;
2. Dari satu arah menuju interaktif;
3. Dari isolasi menuju lingkungan jejaring;
4. Dari pasif menuju aktif menyelidiki;
5. Dari maya/abstrak menuju konteks dunia nyata;
6. Dari pembelajaran pribadi menjadi menuju pembelajaran berbasis tim.
7. Dari luas menuju perilaku khas memberdayakan kaidah keterikatan;
8. Dari stimulasi rasa tunggal menuju stimulasi ke segala penjuru;
9. Dari hubungan satu arah bergeser menuju kooperatif.
10. Dari produksi massa menuju kebutuhan pelanggan;
11. Dari usaha sadar tunggal menuju jamak.
Dalam uji publik kurikulum 2013 mengenai pergeseran paradigma belajar
dengan mempertimbangkan beberapa ciri abad 21 serta penerapan model
pembelajaran yang sesuai. Berikut pergeseran paradigma pembelajaran yang
tercermin dari ciri-ciri abad 21 dan model pembelajaran yang disesuaikan
1. Informasi (kapan dan di mana saja), dalam penerapan pembelajaran di kelas
pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik untuk mencari tahu dari
berbagai sumber, bukan hanya diberi tahu
2. Komputasi (lebih cepat memakai mesin), artinya pelaksanaan pembelajaran
diarahkan untuk mampu merumuskan masalah (menanya) , bukan hanya menyelesaikan
masalah (menjawab masalah yang ada)
3. Otomasi (menjangkau segala pekerjaan rutin), artinya pembelajarahkan untuk
mampu berpiikir analitis dalam pengambilan keputusan, bukan berfikir mekanistis
(rutin)
4. Komunikasi (dari mana dan kapan saja), artinya pembelajaran menekankan
pentingnya kerjasama dan berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.
Menurut Jennifer Nichols dalam Rohim
, Bima dan Julian [2016] menyederhanakannya ke dalam 4 prinsip pokok
pembelajaran abad ke 21 yang dijelaskan dan dikembangkan berikut ini:
1. Instruction should be student-centered
Pengembangan
pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif
mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut
untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi
berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan
kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi
untuk memecahkan masalahmasalah nyata yang terjadi di masyarakat.
2. Education should be collaborative
Siswa harus
dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan
orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya.
Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa
berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek,
siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang
serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan
mereka.
3. Learning should have context
Pembelajaran tidak akan
banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar
sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan
sehari-hari siswa. Guru mengembangkan yang memungkinkan siswa
terhubung dengan dunia nyata [real word]. Guru membantu siswa agar dapat
menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta
dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehariharinya. Guru melakukan penilaian
kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
4. Schools should be integrated with society
Dalam upaya
mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah
seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan
sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana
siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam
lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program
yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup,
dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti
asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dari pemaparan mengenai
pembelajaran sains abad 21, adapun yang ingin penulis diskusikan yaitu:
1. Bagaimana
strategi
pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa dalam pembelajaran sains abad 21 ?
2.
Bagaimana tantangan
guru yang dapat mempengaruhi pembelajaran sains abad 21 ?
3.
Apa saja hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam mengembangkan pembelajaran sains abad 21 ?